Selasa, 18 Oktober 2016

Hamba kepada Tuhan-nya

Tuhan menjawab pertanyaan dan harapan hambanya melalui langit yang tak berhingga. Entah mengapa semua prahara di dunia bisa terjadi, namun pasti ada keinginan pemilik semesta ini mengatakan sesuatu pada hamba yang penuh dengan kecurigaan dan kesalahpahaman ini.

Jika aku masih saja memendam prasangka, pasti karena tak cukup imanku untuk memahami maksud pertikaian antara air mata dan kemerahan di mataku. Tapi manusia seperti aku ini memang sangat gemar menuduhkan murka sembarangan, walau sebenarnya tak pantas.

Nafasku terengah-engah, disela air mata yang tak berhenti menghujam sesak dalam dada. Ini kali kedua, aku merasa patah hati karena kekecewaan. Sekali lagi aku merasa hancur dan enggan mencari alasan atas kegagalan.

Ingin kusampaikan beribu umpat dan hujatan kepada helai angin yang seperti menertawakanku...

Aku sebenarnya sedang mencari perhatian Tuhan, walau aku tahu aku tak perlu mencari.
Aku sebenarnya sedang ingin menunjukkan kesaksian betapa sedih dan hebatnya rasa kecewa ini karena ulah Tuhan. Tapi sungguh, aku hamba yang tak tahu diri!

Janji apa yang Tuhan harusnya penuhi pada hamba-Nya ini? Janji Apa?
Tidak ada.

Karena aku bukan pemilik semesta ini. Tak ada kekuatan rasanya untuk sekedar meminta Tuhan memenuhi keserakahan hamba-Nya. Memang tak ada.
Harus apa lagi?
Jika meminta untuk dikabulkan rasanya berlebihan, maka bisakah hanya meminta saja? Hanya meminta tanpa imbuhan keinginan untuk dikabulkan?

Apalah lagi yang hamba ini bisa hidupkan? Selain bernafas bersela doa dan syukur. Pemilik semesta ini tak pernah menagih uang kontrakan.
Kalau saja Tuhan itu perhitungan, habis diri ini dijualpun tak mungkin mampu penuhi itu.

Bersyukur sajalah dengan apa yang ada, jika telah pandai bersyukur, berita apapun yang Tuhan sampaikan, tak akan ada berat di hati,

Senin, 19 September 2016

Dari Dinda (bukan nama asli)


Kami adalah serdadu laron-laron yang hidup di balik dinding megah yang sayapnya rapuh tapi tak pernah lelah berebutan cahaya. Jika sayapnya lepas, sayap-sayap itu akan bertaburan di mana-mana seperti kertas convetti pada pesta perayaan.

Lompatlah melalui tembok-tembok kokoh yang jika malam pancaran lampunya mencurigakan. Di belakang sini, sebuah kehidupan masih berusaha bertahan dan jika telah kau lihat, sebutkan siapa yang sesungguhnya tak akan mengumpat?
Tak ada. 

Di situlah matahari akan terbenam, di sebelah barat kota Purwokerto.
Di situlah beribu umpat dan maaf ingin aku sampaikan pada dunia. 
 Adakah orang yang berkenan menjenguk mataku? Dinda yang tangannya penuh lecet bekas garukan dan gigitan nyamuk nakal tadi malam. Karena rumahku penuh lubang dan selimutnya hanya ada satu untuk dinda. Tidak apa, gatal ini tidak seberapa, jika kesal aku bisa membunuh penghisap darah itu hingga ia mati gepeng.
Banyak kakak-kakak datang ke sanggar, semua pasukan laron berkumpul. Tapi mereka tidak malu berteriak-teriak, berlarian menabrak kakak-kakak itu, dinda juga tidak mau kalah.

Restu tiba-tiba lewat dan agar penyambutan kakak-kakak lebih menarik, pertunjukan restu jatuh dan kepala gundulnya benjol terbentur lantai pasti akan seru. Aku ulurkan kakiku untuk menyandungnya.
Oops! Gagal. Dia hanya cengengesan.

Kali ini Ais yang berteriak-teriak membut telingaku sangat bising. Aku jambak kerudung merahnya, pasti dia akan lebih keras berteria.

"Aaah!"

Kan benar, dia berteriak dan semua mata tertuju pada kami.

Seorang kakak berkerudung menarikku, tapi aku masih ingin menggoda Ais hingga ia menangis. Aku mengulurkan tanganku lebih kuat tapi malah salah sasaran. Kakak itu yang terlihat sedikit kesal.

"Tuh kan, kakak yang kena." Kakak perempuan itu berbicara, nadanya sedikit meninggi. Ah, salah siapa menghalangiku.

Kakak itu menarikku menjauhi Ais dan membuatku duduk di pangkuannya. Aku masih tetap ingin melanjutkan perkelahiannya, belum ada pemenangnya. 

"Ayo kita menggmbar aja yuk." Kakak itu berkata dan menunjukkan sebuah kertas putih.

Kakak itu kemudian mengambil sebuah pensi dan aku langsung merebutnya. 


Pertama kali aku bertemu Dinda dan dia mendekatiku, aku berpikir Dinda mungkin sedikit terganggu secara psikologis. Dia tidak mendengarkan siapapun. Dinda kecil sangat liar.
Tapi setelah lebih mengenalnya, aku pikir dia hanya ingin kasih sayang dan perhatian yang lebih, dia marah ketika aku mengalihkan perhatian pada anak-anak lain. Di setiap kura-kura yang Dinda gambar, jika pujian aku sampaikan, Dinda akan terlihat bahagia.

Dinda adalah laron kecil yang memikul begitu banyak kasih sayang untuk keluarganya. Suatu saat saya bertanya mengenai ayahnya, dinda terlihat begitu rindu.

Terima kasih Dinda, untuk hari-hari yang penuh kasih...

 
Dinda suka sekali menggambar kura-kura. Kakak itu protes ketika ku menggambar kura-kura dengan kaki banyak. Biar saja, kasian kalau kakinya hanya empat, dia akan berjalan sangat lambat. Kakinya banyak agar jalannya bisa lebih cepat.

Kakak itu protes lagi, katanya Dinda suruh menggambar yang lainnya. Tapi Dinda hanya suka gambar kura-kura. Kura-kura berkaki banyak yang saling berteman.

Pada hari terakhir kakak-kakak di sanggar, Dinda akhirnya mau ikut kakak-kakak untuk sholat maghrib berjamaah di masjid. Dinda juga meminta kakak itu untuk membantu memotong kuku Dinda yang kotor. 
Setelah sholat maghrib, ketika Dinda sedang serius menggambar, seorang kakak cantik membawa baskom berisi banyak sekali biskuit kelapa. Dinda langsung berdiri dan menghampiri kakak itu dan mengambil banyak biskuit.

"Kakak pegang ini sebentar ya..." Aku berlari lagi untuk mengambil plastik.

Biskuit itu untuk adik Dinda, namanya Nina. Kasian Nina, di rumah tidak ada biskuit kelapa.

"Kakak, dinda pulang dulu ya... Nanti nina keburu tidur..."


Untuk seorang gadis kecil dengan kesan liar, seberkas kasih sayang itu ternyata masih ada dan seolah-olah menutup segala ketangguhannya...

Yang biasanya Dinda, gadis kecil dengan emosi labil dan tidak segan untuk menghajar siapapun yang mengganggunya, untuk membawakan beberapa biskuit untuk adik kecilnya, dia rela berlari pulang berharap Nina belum tidur... 

Biskuit Kelapa penuh Cinta...

Di salah satu percakapanku dengan Dinda, aku tanya tentang Ayahnya...
Ayahnya seorang supir bus mikrolet, yang tidak selalu pulang setiap harinya, yang membuatnya rindu.

"Dinda mau sama bapak, naik bus ke pantai..."

Dinda, satu tahun sudah cepat berlalu...
Dinda pasti sudah semakin tumbuh besar...
Sudah ke pantai belum, sayang?
Semoga bapak sering pulang ya...
Titip salam untuk Ibu dan Nina ya...

Untuk hidupnya harapan...

Salahkan resah, untuk waktu yang hanyut bersama keraguan. Aku ingin salahkan gelisah, untuk penat yang membuatku susah menghela nafas. Tapi, harus aku salahkan siapa ketika arah peraduan matahari justru memimpin langkahku pada-mu yang bukan hanya kiasan. 

Tuhan sampaikan kabar indah ini, mungkin telah lama juga Tuhan tuliskan titah ini bahwa pada saat itu aku akan akhirnya memutus sejenak kerinduan, walau kini sudah mulai meracau lagi rindu itu...

Hanya bertukar pandangan-pun melegakan rasanya...
Hanya beriringan senyum-pun luar biasa bahagianya...

Yang selalu berada membentang bersama mega, walau jauh, di lipatan langit entah bagian mana.
Yang masih enggan untuk tak berada jauh...

Tiupan rinduku membeku dan menjadi embun di sela jendela kamarmu...
Di satu embun di antara rindu-rindu yang bertebaran, satu itu milikmu...
Satu itu milikmu, dan di sinilah bagian hulu dari mana rindu itu mengalir. 
Semoga tak sia-sia dan sekedar hanyut bermuara di laut yang tak terhingga...

 
 

 

Jumat, 22 Januari 2016

Yang Membuatku Menderita Rindu Berkepanjangan...


"Awalnya catatan ini berjudul, Gemuruh dalam Diam. Catatan yang baru saja aku baca kembali dan aku tiba-tiba merasa lucu karena pernah menuliskan hal-hal murahan itu menjadi sebuah memo panjang. Entah ketika itu apa yang aku pikirkan, tapi aku senang bisa melihat kembali bagaimana aku telah tumbuh..."

...

Gemuruh hatiku, dalam pelupuk kesendirian...

Sepi membunuh kalbu...

Meremang dan menjadi gelap, goyah...

Mendesir, menghanyutkan helai nafas...

Menapak jalan dalam kesendirian, aku selalu mencoba untuk tak mengingatmu. Dalam himpitan waktu, apalah yang bisa aku perbuat, melihatmu telah berani berjalan dalam pilihanmu sendiri. Tak mungkin aku butakan mataku, tak mungkin aku pecahkan telingaku, tapi bukan juga hal mudah membiarkanmu tetap melangkah menjauh. Hatiku menjadi geram tak main-main...

Ini kesekian kalinya aku terdorong lenganku sendiri. Berlutut bisu, dalam benak takpun ada tinta cerah menampak. Kesekian kali merasuk dalam pikuk gemuruh hati penuh dusta. Beribu waktu yang aku tapaki, ini kesekian kalinya aku merasakan basah mataku. Di bawah remangan bulan yang kusut, tak membiarkan ada sela pada wajahku. 

Hanya bangku kayu ini yang mulai keropos, yang berkenan menerima tangisanku. Mungkin bangku kayu inipun telah merasakan kesepian, seperti hatiku. Sendiri, memandang angan-angan, menjamur di tengah masa, dan tak seorangpun mampu mengerti.

Hatiku yang benar-benar sedang kacau kehilangan orientasi. Dia yang musim gugur lalu, masih bersamaku, kini telah hilang dalam kerutan masa.

"Tak baik menangis sendiri di tempat seperti ini."

Kebisuanku tergoyah, seutas suara menghancurkan dinding-dinding lamunku. Menggetarkan jantungku, yang barusan saja masih berdetak santai. Tanpa berpikir apapun, mataku bergerak mencari pemilik suara itu.

"Seberat apa masalahmu?"

Aku langsung memberatkan pandanganku pada segaris mata kecil di situ. Jari-jariku bergerak cepat menghapus titik-titik air mata di pipiku. Menyela sedikit nafasku yang tersesak isan seduanku. Aku menggeleng pelan, tapi wajahku tetap saja menyedihkan.

Itu dia...

"Tanpa kau memberi tahuku, aku mengerti seberapa berat masalahmu..." katanya lagi, kini duduk di sebelahku. Sombong sekali! Seakan dia pernah menjenguk apa isi hatiku...

Aku terdiam, tersentak dalam. Aku baru saja tersadar. Belum usai kami bercengkerama, tiba-tiba sekelilingku berubah menjadi sunyi. Aku bahkan belum selesai melepas rindu, tapi ternyata barusan hanya ilusiku.

Dia masih tak berada didekatku, jauh entah di mana.

Yang lama telah membuatku menderita rindu berkepanjangan....

...

Memo ini tercatat tahun 2010, hanya beberapa bulan sejak kepergiannya.

Ternyata rindunya masih sama pekat.


Senin, 18 Januari 2016

Selamat malam...
Ternyata telah lagi berganti tahun, mudah saja 365 hari yang penuh rindu itu berlalu lalang. Sudah hari ke delapan belas di tahun dua ribu enam belas yang berarti akan menandakan bahwa hampir enam tahun wahai sang manis kesayangan tuhan telah berada jauh tak dalam pandanganku, mendekati juga hari ulang tahunmu yang ke dua puluh tahun.

dua puluh tahun?

Kau mungkin sudah tampan seperti bagaimana biasanya manusia tumbuh. Dua puluh tahun itu waktu yang luar biasa, tak inginkah kau berkunjung? Sebentar saja, aku ingin, walaupun sedikit saja mendengar kita bercengkerama. Aku menyimpan banyak sekali cerita untuk mu, untuk mu mendengarnya sedikit saja. Aku juga sudah tumbuh dan beranjak hampir menjadi dewasa. 

Aku sedang berjalan di jalan sepetak yang aku ingin kau sesekali memegangi payung yang biasanya aku pegang sendiri. Aku sedang berjalan di atas tanah yang terkadang membuatku sesak dan aku ingin kau sesekali menjengukku, biar hilang sesak di dada. 

Wajah jinggaku, 
bolehkah aku mengganti panggilanmu menjadi wajah jinggaku? Itu terlihat cerah dan bahagia. 
Ilalang itu mulai sombong, sekarang seringkali juga kumbang tak menyemangati mega untuk tetap menjingga di senja. Waktu sela senjaku sebelum petang menjadi membosankan, jujur saja, akupun telah lama tak menyaksikan matahari berjalan ke peraduannya, Aku tertidur dan tiba-tiba hari telah berganti begitu saja. Karena aku lelah dan bersedih, aku mungkin pengecut karena mencoba lari dari suara dentingan jam yang seharusnya aku mengamatinya. Tapi aku terlalu takut, aku telah berkali-kali mencoba untuk keluar dari jalan yang menyesakkan ini, tapi akupun tak tahu harus berjalan ke arah mana lagi...

Aku memang tak tahu malu kan?
Aku terus berkeluh kesah, padahal aku tahu, kau mungkin sedang mendaki pegunungan dingin penuh batu atau sarang serigala. Kau juga mungkin sedang kesulitan dan telah berkali-kali menyeka air matamu. Pasti kau sedang berusaha, karena kau telah datang jauh ke tempatmu berada sekarang, jauh di ujung sana yang aku tak mampu menerkanya. 

Selamat berjuang juga, wajah jinggaku yang aku harap tetap berbahagia. Karena kau adalah pria manis yang aku ingat selalu...