Jumat, 22 Januari 2016

Yang Membuatku Menderita Rindu Berkepanjangan...


"Awalnya catatan ini berjudul, Gemuruh dalam Diam. Catatan yang baru saja aku baca kembali dan aku tiba-tiba merasa lucu karena pernah menuliskan hal-hal murahan itu menjadi sebuah memo panjang. Entah ketika itu apa yang aku pikirkan, tapi aku senang bisa melihat kembali bagaimana aku telah tumbuh..."

...

Gemuruh hatiku, dalam pelupuk kesendirian...

Sepi membunuh kalbu...

Meremang dan menjadi gelap, goyah...

Mendesir, menghanyutkan helai nafas...

Menapak jalan dalam kesendirian, aku selalu mencoba untuk tak mengingatmu. Dalam himpitan waktu, apalah yang bisa aku perbuat, melihatmu telah berani berjalan dalam pilihanmu sendiri. Tak mungkin aku butakan mataku, tak mungkin aku pecahkan telingaku, tapi bukan juga hal mudah membiarkanmu tetap melangkah menjauh. Hatiku menjadi geram tak main-main...

Ini kesekian kalinya aku terdorong lenganku sendiri. Berlutut bisu, dalam benak takpun ada tinta cerah menampak. Kesekian kali merasuk dalam pikuk gemuruh hati penuh dusta. Beribu waktu yang aku tapaki, ini kesekian kalinya aku merasakan basah mataku. Di bawah remangan bulan yang kusut, tak membiarkan ada sela pada wajahku. 

Hanya bangku kayu ini yang mulai keropos, yang berkenan menerima tangisanku. Mungkin bangku kayu inipun telah merasakan kesepian, seperti hatiku. Sendiri, memandang angan-angan, menjamur di tengah masa, dan tak seorangpun mampu mengerti.

Hatiku yang benar-benar sedang kacau kehilangan orientasi. Dia yang musim gugur lalu, masih bersamaku, kini telah hilang dalam kerutan masa.

"Tak baik menangis sendiri di tempat seperti ini."

Kebisuanku tergoyah, seutas suara menghancurkan dinding-dinding lamunku. Menggetarkan jantungku, yang barusan saja masih berdetak santai. Tanpa berpikir apapun, mataku bergerak mencari pemilik suara itu.

"Seberat apa masalahmu?"

Aku langsung memberatkan pandanganku pada segaris mata kecil di situ. Jari-jariku bergerak cepat menghapus titik-titik air mata di pipiku. Menyela sedikit nafasku yang tersesak isan seduanku. Aku menggeleng pelan, tapi wajahku tetap saja menyedihkan.

Itu dia...

"Tanpa kau memberi tahuku, aku mengerti seberapa berat masalahmu..." katanya lagi, kini duduk di sebelahku. Sombong sekali! Seakan dia pernah menjenguk apa isi hatiku...

Aku terdiam, tersentak dalam. Aku baru saja tersadar. Belum usai kami bercengkerama, tiba-tiba sekelilingku berubah menjadi sunyi. Aku bahkan belum selesai melepas rindu, tapi ternyata barusan hanya ilusiku.

Dia masih tak berada didekatku, jauh entah di mana.

Yang lama telah membuatku menderita rindu berkepanjangan....

...

Memo ini tercatat tahun 2010, hanya beberapa bulan sejak kepergiannya.

Ternyata rindunya masih sama pekat.


Senin, 18 Januari 2016

Selamat malam...
Ternyata telah lagi berganti tahun, mudah saja 365 hari yang penuh rindu itu berlalu lalang. Sudah hari ke delapan belas di tahun dua ribu enam belas yang berarti akan menandakan bahwa hampir enam tahun wahai sang manis kesayangan tuhan telah berada jauh tak dalam pandanganku, mendekati juga hari ulang tahunmu yang ke dua puluh tahun.

dua puluh tahun?

Kau mungkin sudah tampan seperti bagaimana biasanya manusia tumbuh. Dua puluh tahun itu waktu yang luar biasa, tak inginkah kau berkunjung? Sebentar saja, aku ingin, walaupun sedikit saja mendengar kita bercengkerama. Aku menyimpan banyak sekali cerita untuk mu, untuk mu mendengarnya sedikit saja. Aku juga sudah tumbuh dan beranjak hampir menjadi dewasa. 

Aku sedang berjalan di jalan sepetak yang aku ingin kau sesekali memegangi payung yang biasanya aku pegang sendiri. Aku sedang berjalan di atas tanah yang terkadang membuatku sesak dan aku ingin kau sesekali menjengukku, biar hilang sesak di dada. 

Wajah jinggaku, 
bolehkah aku mengganti panggilanmu menjadi wajah jinggaku? Itu terlihat cerah dan bahagia. 
Ilalang itu mulai sombong, sekarang seringkali juga kumbang tak menyemangati mega untuk tetap menjingga di senja. Waktu sela senjaku sebelum petang menjadi membosankan, jujur saja, akupun telah lama tak menyaksikan matahari berjalan ke peraduannya, Aku tertidur dan tiba-tiba hari telah berganti begitu saja. Karena aku lelah dan bersedih, aku mungkin pengecut karena mencoba lari dari suara dentingan jam yang seharusnya aku mengamatinya. Tapi aku terlalu takut, aku telah berkali-kali mencoba untuk keluar dari jalan yang menyesakkan ini, tapi akupun tak tahu harus berjalan ke arah mana lagi...

Aku memang tak tahu malu kan?
Aku terus berkeluh kesah, padahal aku tahu, kau mungkin sedang mendaki pegunungan dingin penuh batu atau sarang serigala. Kau juga mungkin sedang kesulitan dan telah berkali-kali menyeka air matamu. Pasti kau sedang berusaha, karena kau telah datang jauh ke tempatmu berada sekarang, jauh di ujung sana yang aku tak mampu menerkanya. 

Selamat berjuang juga, wajah jinggaku yang aku harap tetap berbahagia. Karena kau adalah pria manis yang aku ingat selalu... 


Minggu, 04 Oktober 2015

May 31

Di ambang senja, bersama awan-awan yang lekan kembali pulang, siapakah lagi yang datang mengetuk-ngetuk jendela kamarku? Hujan.

Apakah seseorang mengubahmu menjadi tetesan-tetesan hujan di luar jendela? Siapa yang membuatmu seperti itu? Siapa yang berani menjadikanmu uap-uap embun? Kau sendiri.
Kau yang memilih meninggalkan jejak pada waktu gerimis dulu. Kau yang rela sendiri untuk menjadi embun-embun dibalik jendela, tidak, kau bahkan sekarang menghilang tanpa bekas.

Sebuah puisi dari Elizabeth Browning yang sangat aku suka, tentang bagaimana aku mencintaimu.

Bagaimana aku mencintaimu? Biarkan aku hitung jalannya...
...
Senyuman, air mata dari segala hidupku! Dan ketika tuhan menentukan pilihannya,
Aku bahkan akan mencintaimu lebih setelah mati.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Aku sedang tak ingin membagi kerinduanku ini yang semakin mencekam. Merasakan denyut nadiku sedang menggelegar di kepala, pasti aku sedang ingin benar-benar melihatmu...

Suatu saat, aku duduk di bangku kayu yang bersandaran, di pagi yang tidak dingin tapi menyejukkan. Ketika itu, nafasku tidak beraturan, ada yang ingin meledak di dalam dadaku, tapi ternyata itu bukan apa-apa yang serius, aku hanya sedang gugup karena hari itu adalah kompetisi pertamaku. Pantas saha, perempuan kecil berusia sebelas tahun dulu begitu terengah.

Apakah orang-orang terlambat? atau aku yang begitu semangat menyambut kompetisi pertamaku? Di tempat yang tak kukenal itu, aku hanya memberanikan diri untuk bersandar di kursi kayu panjang. Apa yang bisa aku lakukan saat itu? Hanya mengayunkan kaki-kaki ku yang tergantung karena kursi itu terlalu tinggi. Seperti itu hingga aku bosan dan ada bayangan yang aku lihat dekat tempatku bersandar.

Aku mengenalnya, dia laki-laki berbadan gilik yang cerdas, tak heran aku terpesona. Belum sempat aku temukan apa pesonanya, harus bertemu langsung untuk menemukan kesannya.

Dia bukan orang yang pemalu, dia tahu aku memandangnya dengan sedikit rayu dan ketika itu, ketika hanya aku dan dia yang ada di tempat asing itu, yang membuatku tak sanggup berkata, "Kamu suka denganku, ya?".

Aku hanya bisa dengar suara lucunya. Aku tak lihat bentuk ekspresi apa yang dia pasang saat itu, raut apa yang ada di ujung bibirnya, dan pandangan seperti apa yang berteduh di bawah bulu mata lentiknya. Aku hanya mampu tersipu dan membisu.

Rindu ini tentu semakin rindang, tapi tak seperti rimbun daun-daun beringin yang sejuk untuk tempat berteduh. 

Dari cerita masa kecilku, aku tak menyangka akan terus teringat hingga sekarang. Ketika dia telah hilang.

Sosok yang penuh kesan.
Kami memiliki hobi yang sama saat itu. Tak hanya itu, bahkan guru kursus piano kami adalah orang yang sama.

Semoga tempatmu bersemayam nyaman dan hangat, sampai jumpa di kehidupan yang lain. Rasanya benar-benar menyesakkan untuk menyadari bahwa sementara ini aku tak mungkin melihatmu lagi, entah sementara atau selamanya. Sudah lima tahun sejak hari yang tak terduga itu, aku tak ingin mengingat kapan hari pastinya. Inginku, itu tak pernah terjadi.

Kamis, 21 Mei 2015

suatu saat ku rindu...



Demi rasa yang tuhan limpahkan pada semesta, mungkin rindu harus tetap berujung rindu. Agar hangat rasanya, dua orang saling merindu dalam jarak yang tak menentu. Kalaupun aku mampu untuk mengurai seberapa panjang jingga ini akan terbentang, tak pasti juga aku akan menemukanmu, pria manis yang mengisi anganku. Aku tak ingin mencari apalagi berlari menyusuri raut yang kau sisakan untukku tahu tempatmu berada. Aku tak berani menghadap, menatap, walau sekejap, entah apa, tapi aku ragu.

Dalam suatu rindu yang pernah aku tak mampu menahannya, saat itu sebuah mimpi yang tak pernah aku nanti hadir di sela keinginanku untuk senyap terlelap. Pria manis yang aku harap masih aku dapat katakan milikku, kau menyapaku dengan senyum berjuta rasa. Aku mampu melihat jelas bulu matamu bergerak-gerak mengikuti kedipan halusmu. Saat itu saja aku merasa terganggu, yang seharusnya aku merasa haru, tapi hanya tersisa ragu. Aku tak ingin mimpi itu hanya menjadi mimpi, tapi bahkan aku tak berani menginginkannya sebagai janji.

...

Mungkin tuhan membuatnya jalannya, di mana kita bertemu melalui birama-birama rumit yang kita suka memainkannya menjadi nada manis di ata piano. Mungkin itu juga mengapa, aku tak bisa menjaga dan berpura-pura untuk tidak gugup saat siapapun memainkan piano. Karena rasanya, aku ingin kembali pada saat itu, ketika nyanyian yang paling aku suka adalah raut lembut wajahmu yang bersahaja saat memainkan nada sederhana. Sederhana pun mampu membuatku jatuh berulang kali...

"Tahu mengapa lagu-lagu mu selalu menjadi yang terbaik?"

"Karena hanya aku yang mampu menangkap gelombangnya..."

Aku bergumam karena aku memang rindu,

bersama lagu indah Yiruma, river flows in you...